LAYAKKAH ?

Rut 3:1-18 

Lalu katanya: “Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya

Rut 3:10

Apa yang bisa diharapkan dari Rut? Ketika ia memutuskan untuk meninggalkan negerinya (dengan segala kemungkinan yang lebih baik dan membahagiakan dirinya) dan mengikuti Naomi pulang ke Betlehem, secara tidak langsung ia menempatkan dirinya ke dalam lapisan minoritas yang cukup tebal. Dia perempuan asing, tidak sekedar asing biasa, namun orang Moab, plus menyandang status janda. Belum lagi jika dilihat latar historisnya, dalam kitab suci, kita belajar bagaimana stereotipe yang dimiliki orang-orang Moab, khususnya bagi perempuan Moab (Bilangan 25). Dengan latar belakang sedemikian rupa, hipotesis yang kita miliki adalah identitas Rut sama sekali jauh dari hal yang positif.

Anggapan di atas bisa saja kemudian mengantar kita pada keheranan terhadap ungkapan yang dilontarkan Boas pada ayat bacaan kita hari ini. Dia tidak memanggil Rut dengan sebutan yang kasar atau menghina, namuin justru dengan penyebutan „anakku‟ serta memberikan berkat (lihat juga Rut 2:12). Untuk memahami sikap Boas ini, kita akan menemukan beberapa petunjuk bahwa reputasi Rut di tanah Yehuda, justru sangat positif. Hal itu bisa kita lihat pada Rut pasal 2:6, 11; dan Rut 3:11. Pada bagian itu, reputasi Rut yang penuh dengan kebaikan telah diketahui oleh Boas (bahkan orang lain). Reputasi itulah yang kemudian menjadi pegangan Boas untuk kemudian mengiyakan permintaan Rut, sekalipun ia tahu masih ada kerabat lain yang lebih berwewenang untuk mengambil Rut sebagai istri. Apa yang Boas tunjukkan di sini adalah sebuah tindakan yang meresikokan reputasinya sebagai orang terpandang di lingkungannya (selain kaya, dalam bahasa Aram juga dimaknai sebagai seseorang yang sangat mengenal hukum Taurat), untuk melakukan sebuah tindakan „penebusan‟ sekaligus ‘pemulihan‟.

Dinamika relasi antara Rut dan Boas, menunjukkan kepada kita dua hal penting. Pertama, dengan segala keberadaannya, Rut menyadari bahwa dirinya sangat memerlukan seorang penebus/penolong. Sama seperti Rut, kita adalah orang-orang yang tidak punya kelayakan untuk ditebus. Tidak ada kebaikan apapun yang dapat menjadi pertimbangan bagi ditebusnya kita. Kedua, melebihi Boas, Allah karena begitu mengasihi kepada kita, Ia mau menebus kita. Allah memertaruhkan reputasiNya, padahal tidak ada keharusan bagiNya untuk menebus kita. ReputasiNya dipertaruhkan dengan menjadikan diriNya sama dengan manusia, berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat, khususnya mereka yang menjadi „sampah‟ masyarakat, mereka yang berdosa. Tapi, itulah yang Tuhan lakukan. Lalu, masihkah kita menjadi orang yang selalu mengutamakan reputasi diri, pencitraan diri, menyombongkan diri, sembari menafikan sesama bahkan Tuhan? (Bapak Yulius Y. Ranimpi, M.Si,Ph.D.Psi).

Refleksi :
Setiap kali kita dimampukan untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain, apakah kita lalu merasa layak untuk dapat penghargaan?

Doa :
Tuhan, kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, mampukanlah kami untuk melakukan yang Kau perkenankan. Amin.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp