Kasih yang Konstruktif

Imamat 19 :17 – 18 

“ Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”

(Im. 19:17-18)

Adakah yang mengenal pujian ini, GB 47 KASIH ITU SABAR 2. Kasih itu sabar, kasih itu memaafkan, kasih tak pemarah, tak menyimpan kesalahan sesama, Kasih itu sabar, kasih itu tulus hati, kasih s’lalu bawa sukacita serta damai sejaht’ra. Ref. Dalam kasih, kita saling memahami, berbagi suka maupun duka bersama. Tak memandang insan dalam perbedaan, semua sama di hadapan Allah.

Secara manusiawi apabila kita disakiti, dijahati atau bahkan diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain naluriah kita cenderung ingin melakukan pembalasan.  Kita pasti akan menyimpan dendam. Dendam di hati sewaktu-waktu pasti akan meledak. Balas dendam tentu berasal dari si jahat. Sebenarnya balas dendam berasal dari ketidak-mampuan seseorang untuk mengelola suasana hati dan kemarahan. Balas dendam tidak akan menentramkan hati.  Dendam pasti menyimpan akar pahit, sakit hati dan kebencian terhadap orang lain!

Menurut Imamat 19:17, Orang yang mendendam pasti memiliki hati yang tidak bersih, biasanya pikirannya akan dipenuhi dengan rencana-rencana jahat. Keinginan membalas sakit hati seringkali membuat orang tidak bisa berpikir jernih. Semakin mendendam semakin dibawa kepada tindakan jahat lainnya.  Ini seperti mata rantai yang saling terhubung dan tidak pernah putus.

Berdasarkan pemahaman di atas maka sebagai orang yang telah di kasihi dan di tebus oleh darah Kristus maka harus berani mengubah gaya hidup. Kita harus berani mendoakan setiap orang yang menyakiti, berbuat jahat. Sehingga sikap tenang saat menghadapi situasi apapun, bahkan ketika merasa terancam, adalah sesuatu yang sangat penting. Maka jadilah dewasa dalam menimbang setiap hal yang kita lihat, dengar, atau rasakan. Ingatlah akan sabda Tuhan dalam Roma 12:19 “… Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”  Inilah yang di maksudkan dengan kasih yang konstruktif. Bagaimana dengan sivitas akademika UKSW? Amin. (sdy)

Refleksi:

Sudahkah kita mempunyai hikmat kebijaksanaan yaitu kasih yang konstruktif? Beranikah kita selalu menjalani?

Doa:

Ya Tuhan, anugerahkan kami kasih yang konstruktif dalam menjalani hidup ini, Amin.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp