Kasih Setia

Amsal 3:3

“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.”

(Ams. 3:3)

Suatu saat ada seorang pendeta membeli sepeda motor baru yang cukup mahal. Ia sangat senang memiliki sepeda motor yang sudah lama diinginkannya meskipun dengan cara diangsur selama 60 kali atau 5 tahun. Setiap pagi ia selalu melihat sepeda motor barunya dan menggendarinya dengan hati hati supaya sepeda motor tidak tergores. Pada kesempatan yang lain, pak pendeta mendapat undangan melayani disatu desa dan mengajak istrinya pergi naik sepeda motornya. Separuh jalan, karena jalanan yang tidak beraspal membuat sepeda motor yang mereka tunggangi oleng dan akhirnya…gubrakkk!! Sepeda motor terguling, pak pendeta dan istri juga terpental. Secepatnya pak pendeta langsung bangun dan bergegas mengangkat sepeda motor yang jatuh, mencari-cari sesuatu kemudian mengelus-elus sepeda motor baru yang tergores cat nya. Sementara, sang istri masih terkapar di tepi jalan dan pak pendeta masih nampak sedih melihat sepeda motornya yang rusak sambil mengusap-usap bagian motornya. Kemudian sang istri berteriak sambil menangis “Ayah! mengapa kau lebih menyayangi sepeda motormu daripada istrimu?” Pak pendeta menjawab: “maaf istriku, sepeda motor ini belum terbayar lunas sedangkan kamu sudah terbayar lunas dengan darah Yesus”     

Berapa banyak manusia di dunia ini yang sudah tidak lagi mempedulikan kasih kepada sesama? Betapa banyaknya dari kita yang sering kali tanpa sadar fokus hidup kita adalah materi yang banyak sehingga kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Betapa banyaknya manusia yang bahkan tidak memperhatikan lagi sesamanya, yang penting bagi dirinya adalah kesenangan dan kenyamanan. Firman Tuhan mencatat, “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.” (Ams. 3:3-4). Tidak ada kesetiaan tanpa kasih dan kasih tidak akan disebut kasih jika ia tidak konsisten dalam kesetiaannya. Kasih yang sementara bukanlah kasih yang sejati. Kasih dan setia adalah kasih yang terus berkelanjutan sampai kapanpun. Tuhan sudah memberikan contoh kasih setia seperti apa yang Dia mau. Saatnya, kita pun mengikuti contoh yang Dia berikan.

Kasih adalah mata hati kita agar peduli kepada sesama. Kasih adalah nafas yang Tuhan berikan kepada kita untuk mengerti dan turut merasakan kesakitan yang orang lain alami. Kasih itu adalah acuan untuk menjalankan kehidupan ini dengan baik. Kasih yang berasal dari Tuhan adalah kasih yang patut kita pakai untuk menjadi ukuran kasih kita terhadap sesama. Orang yang memegang teguh kesetiaan ternyata tidak hanya akan dihargai oleh sesamanya, tapi juga dihargai oleh Allah. (wal)

Refleksi:

Dengan cara apakah aku dapat menyatakan kasihku pada setiap orang pada hari ini?

Doa:

Tuhan, bukalah hati kami untuk memiliki kasih kepada sesama kami, Amin.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp