KASIH SEBAGAI SIMPUL PENGIKAT HUBUNGAN

Kolose 3:14 

“Dan diatas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”.

Kolose 3 : 14

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, tentunya sudah dipenuhi serta dipersiapkan oleh Allah segala kebutuhannya. Bahkan menjadi sebuah keniscayaan bahwa manusia menjadi makhluk sosial yang tidak akan pernah mampu untuk hidup sendiri. Dalam bahasa Ibrani “ezer knegdo” seseorang yang membantu dan memberi semangat, yang melengkapi kekurangan orang lain yang dibantunya, teman dan pelengkap, demikian manusia dijadikan oleh Allah.

Melalui nas Firman Tuhan Kolose 3:14 ini, dapat kita pahami tentang hubungan antar umat manusia, sebagai teman, sebagai tuan dan hamba, sebagai suami atau istri, sebagai orang tua dan anak kita saling bergantung satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan, sekuat apapun, sesehat bagaimanpun tubuh kita, pasti ada saatnya kita jatuh, lemah tak berdaya. Begitu juga halnya dalam sebuah hubungan. Seharmonis dan seakrab apapun hubungan kita dengan orang lain, pasti ada saatnya kita mengalami konflik, karena pada dasarnya kita ini memiliki banyak perbedaan, latar belakang, cara berpikir, cara bertindak, kepekaan serta karakter.

Sebuah konflik sangatlah wajar terjadi dan konflik tidak selalu negatif akibatnya, justru menjadi tantangan dan upaya bagi kita untuk saling menerima serta memahami satu dengan yang lain. Yang paling utama adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Sebab kita akan menjadi produktif jika kita sikapi dengan positif, dan sebaliknya menjadi kontra produktif jika kita sikapi dengan sikap yang negatif. Dengan demikian, untuk menyikapi persoalan yang ada dalam kehidupan dan hubungan dengan Allah serta sesama, kita sebaiknya menggunakan senjata iman, yaitu KASIH, karena kasih merupakan pengikat yang mempersatukan serta menyempurnakan sebuah hubungan (relasi). Kasih adalah pakaian yang wajib kita kenakan sehingga muncul ciri serta watak Kristiani yang kita miliki, yaitu terwujudnya buah-buah Roh yaitu : belas kasihan,sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, kesabaran dan penguasaan diri (Galatia 5:22). Dan yang paling penting adalah bahwa KASIH itu harus bertolak dari damai sejahtera di hati, sebab jika Kasih yang sudah mengikat, maka hidup kita akan disempurnakan oleh- Nya. ( Pdt. Vialinande Fabiola, M.Si)

Refleksi:
Hiduplah dalam kasih Kristus sebagaimana Ia telah mengasihi kita dengan sempurna.

Doa:
Peliharalah kami Ya Allah dalam kehangatan Kasih-Mu, sehingga kami dapat hidup taat dan setia kepada-Mu sampai akhir. Amin

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp