ALON-ALON WATON KELAKON

 Ibrani 6:12 

“Agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah”

Ibrani 6:12

Dalam kehidupan orang Jawa terdapat pepatah, “alon-alon waton kelakon”, tetapi sayang ungkapan filosofis tersebut sering diplesetkan, “alon-alon kapan tekane” atau kalimat guyonan yang lain. Ketiga “kata” di atas (alon-alon, waton dan kelakon) tidak dapat dibaca secara terpisah, supaya tidak kehilangan makna filosofis yang substansial. “Alon-alon” secara harfiah memang berarti “pelan-pelan” tetapi dalam konteks “waton kelakon” mengandung makna pentingnya kehati-hatian, ketelitian, kesabaran, tidak gegabah dan tidak asal mengerjakan, sehingga hasilnya tidak berkwalitas. Secara keseluruhan alon-alon waton kelakon mengandung kearifan “kegiatan direncanakan dan dikerjakan secara sabar, cermat, teliti berdasarkan (waton) hukum, aturan, rumusan, dan pedoman sampai terlaksana (kelakon) dengan baik.

Sabar, tetap berpegang pada Injil, “hukum Kristus” untuk meraih pengharapan kekal sebagaimana pepatah alon-alon waton kelakon serasa menjadi nasihat yang tepat menghadapi pergumulan jemaat penerima surat Ibrani. Umat Kristen Ibrani berharap mendapatkan segera kegenapan pengharapan imannya, tetapi sayang, oleh rupa-rupa persoalan kehidupan imannya kepada Yesus, Kristus yang bangkit mulai goyah. Mereka mengalami kegundahan kepercayaan, letih iman dan berpaling kembali kepada kepercayaan lamanya, meninggalkan iman kepada Yesus (6:4-6). Dengan kata lain, dalam konteks perikop yang lebih besar (6:1-20), Jemaat Ibrani dihantui kemurtadan. Meskipun terdapat bahaya kemurtadan, tetapi kesaksian iman umat tidak dapat diabaikan. Di sisi lain, umat percaya menunjukan keteguhan hati sebagai cerminan atas kesetiaan dan besarnya pengharapan akan janji Tuhan (6:11). Peziarahan iman mereka memberikan keteladanan bagi kedewasaan orang Kristen di masa kini, dengan sabar, iman mereka menuntun pada capaian anugerah Tuhan “mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah” (6:12).

Peziarahan dan pengalaman hidup Jemaat penerima surat Ibrani menghadirkan refleksi atas kehidupan kekinian kita, bahwa mereka yang dituntun oleh iman, menghadirkan kesabaran hidup, menjadi tetap setia dalam pengharapan yang tidak pernah mengecewakan (Rom 5:5). Sabar, telaten, setiti berdasar pada kebenaran firman Tuhan pasti membawa pada keberhasilan yang membahagiakan, alon-alon waton kelakon. Tuhan memberkati. (Pdt. Imanuel Teguh Harisantoso, M.Si).

Refleksi

Melakukan tugas tanggungjawab dengan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian berdasar pada iman setia pada Tuhan membawa keberhasilan.

Doa

Tuhan, mampukan kami bertindak sabar dan setia pada janji-Mu. Amin

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp