ALLAH YANG PANJANG SABAR

 Nahum 1:3 

“TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya… TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya”

Nahum 1 : 3

Orang sabar di sayang Tuhan, begitu pepatah yang sering kita dengar. Kenapa orang suka mengucapkan kalimat ini? Bisa jadi karena kesabaran sukar dilakukan. Dimana-mana kita melihat orang tergesa-gesa. Di jalan, di kantor, di pasar, dst. Karena kurangnya kesabaran orang menyukai segala sesuatu yang serba instan.  Dalam hal makanan, orang lebih memilih yang cepat saji  (instan)  dibanding harus repot-repot memasak.  Dalam hal bekerja inginnya cepat dapat pekerjaan yang hebat, cepat dapat gaji besar, cepat naik jabatan, dan sebagainya.  Maunya serba instan, kalau bisa tidak perlu kerja keras, tidak perlu usaha mati-matian, tidak perlu merasakan beratnya suatu proses.    

Memiliki kesabaran adalah sebuah ujian iman. Ketika diperhadapkan dengan suatu keadaan atau peristiwa yang menyakitkan atau situasi yang sulit, apakah kita bisa memiliki kesabaran? Tidak mudah bagi kita untuk punya kesabaran: menghadapi atasan yang keras, bersabar dengan mahasiswa yang malas, rekan kerja yang tidak kooperatif, bersabar menghadapi suami kasar atau  isteri yang super bawel,  dll.

Gambaran di atas menunjukkan betapa terbatasnya manusia, tetapi tidak demikian Tuhan yang kita sembah. Nahum menggambarkan Tuhan dengan dua sifat luar biasa dalam nas ini yaitu panjang sabar dan besar kuasanya. Kesabaran Tuhan dinyatakan dengan kesetiaanNya menunggu manusia untuk bertobat dan kembali kepadaNya. Tetapi sejalan dengan itu Nahum juga mengingatkan bahwa dalam kebesaran kuasaNya Tuhan mampu melakukan apapun termasuk menghukum manusia atas semua pelanggaran yang dilakukan. 

Kita pantas bersyukur atas kebesaran kuasa Tuhan yang jauh melebihi kemampuan nalar manusia dan atas panjangnya kesabaran Tuhan dalam proses perbaikan diri kita. Menyadari kesabaran Tuhan hendaknya dipakai sebagai momen untuk tidak lagi melanggar peraturan/ketetapan Tuhan sebagai bentuk penghargaan kita akan kasihNya dan kesempatan yang masih diberikan kepada kita. (Pdt. Maria Belandina Tuulima, M.Si)

Refleksi

Tuhan itu baik dan panjang sabar, tetapi jangan pernah manfaatkan sebagai peluang untuk terus berbuat dosa.

Doa

 Terimakasih Tuhan, untuk kesabaranMu sehingga aku  terus menerima pengampunan. Amin.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp